Malam ini, ku sendiri, tak ada yang, menemani, seperti malam-malam, yang sudah, sudah

Ya, malam ini. Malam yang selalu gelap di luar, yang selalu kelam di atas sana. Ada yang menemani, tapi aku seperti tak mau ditemani. Entahlah, aku seperti pengelana yang selalu dan selalu ingin sendiri.

Ah, kesendirian memang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Senang karena tak ada yang mengganggu, sakit karena tak ada tempat untuk melepaskan unek-unek di hati ini. Yang bikin sumpek, bikin kacau hati saja.

Hati ini, selalu sepi, tak ada yang, menghiasi, seperti cinta ini, yang s’lalu, pupus

Ya, sepi. Tapi apa artinya cinta? Aku tak peduli. Apakah bisa menghiasi? Bisa dan tidak. Bisa ketika aku mau dihiasi, tidak ketika aku merasa terganggu oleh cinta. Ah, cinta. Kau begitu memabukkan. Seperti arak itu, menyenangkan jika mau minum dan merasa nyaman, dan mengganggu ketika ingat bahwa arak itu adalah minuman terlarang. Beralkohol dan berbahaya. Tidak, cinta ini tak pernah pupus. Hanya sesekali menjadi candu.

Aih..

Tuhan kirimkanlah aku, kekasih yang, baik hati, yang mencintai aku, apa adanya…

Aku pun berdoa siang malam, tapi tanpa harapan. Hanya sebagai formulitas saja. Aih, betapa meremehkan diriku kepada Tuhan. Aih, mohon ampuni hamba yang tak tahu diri ini Tuhan, beri aku petunjuk-Mu ke jalan yang benar.

Mawar ini, semakin layu, tak ada yang, memiliki, seperti, aku ini, semakin, pupus

Mawar akan selalu segar dan layu. Ada waktunya sendiri. Ketika tak disirami ia akan layu, ketika disiram dengan apa yang kau miliki akan segar dan sedap dirasakan. Ah, mawar itu begitu indah, namun berduri.

Aku harus berhati-hati. Begitu juga engkau?

Lirik diambil dari sini